Para pejabat kesehatan di Meksiko mengatakan ada tanda-tanda bahwa virus yang menyebabkan flu babi sedang menyebar, dan usaha-usaha pemerintah untuk menghentikan penyebaran tersebut tidak berhasil.
Para pejabat mengatakan kasus-kasus awal penyakit itu di Meksiko terbatas di bagian tengah negara itu. Tetapi sekarang ada kasus-kasus lain dilaporkan di seluruh negara itu.
Ada keprihatinan bahwa kota-kota besar di perbatasan, seperti Juarez, dimana orang tinggal berdesak-desakan di daerah-daerah miskin, akan mudah terserang wabah flu tersebut. Para pejabat mendesak orang-orang agar segera mengusahakan pengobatan jika mereka mengalami gejala flu parah. Demikian dilaporkan VoA (Voice of Amerika), Senin (28/04/2009).
Dubes AS: "Bukan Hanya Berita Buruk dari Solo yang Didengar"
Walikota Solo Joko Widodo menjajagi kerjasama dengan Amerika Serikat (AS) dalam hal pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan. Tawaran Jokowi disampaikan pada pertemuan dengan Duta Besar AS untuk Indonesia, Cameron R Hume, Minggu (26/4).
Dalam kunjungannya ke Solo rombongan kedutaan besar AS meninjau pelbagai kegiatan centra perdagangan industri kecil terpadu Pasar Klitikan Notoharjo, Pasar Gading dan pembangunan rumah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kratonan, Serengan.
"Saya undang Duta Besar AS ke Solo untuk memperlihatkan hasil pembangunan ekonomi Kota Solo yang berbasis kerakyatan. Dengan memperlihatkan hasil pembangunan Kota Solo, diharapkan bisa mengangkat citra perekonomian Solo. Melalui kunjungan ini, saya berharap menjadi pintu gerbang untuk memangun kerjasa ke depan. Saya berharap kalangan dunia usaha di AS mau menanamkan investasi di Kota Solo," ujar Jokowi.
Duta Besar AS Cameron Hume menyambut positif langkah konstruktif yang dilakukan Walikota Surakarta itu. "Setelah mendengarkan penjelasan Mr Joko, saya banyak belajar bagaimana penataan perekonomian Solo. Ternyata pemerintah Solo memberikan fasilitas gratis pada pedagang. Berita-berita baik seperti ini yang ingin saya dengar, bukan berita kekerasan dan berita buruk lainnya di masa lalu," katanya
(Th/Jhn-Koresponden Solo-Raya)
Utang Luar Negeri untuk PemiluMinggu ke empat seusai Pemilu legislatif berlalu, tampaknya genderang perang memperebutkan kursi jabatan orang nomor satu di negeri ini makin memanas. Jangan tanya berapa digit angka ditulis menyertai nilai mata uang bernama rupiah harus dihabiskan untuk penyelenggaraan “pesta” demokrasi rakyat tahun ini? Bagi panitia penyelenggara pemilihan umum, menghamburkan triliunan rupiah uang rakyat, dianggapnya lumrah dilakukan.
Berburu Jodoh Lewat Koran, Tabukah? Siapa orangnya yang mau dijauhkan dari jodoh? Kalau memang belum waktunya, urusan jodoh terkadang bikin stres karena selalu didera perasaan was-was tidak laku kawin. Apalagi bagi kaum wanita, yang telah berusia di atas 30 tahun-an. Acap julukan perawan tua, menambah atribut seorang wanita yang terlambat dalam perkawinannya. Hal itu membuat posisi kaum wanita semakin terpuruk. Tidak jarang kondisi semacam ini menjadi makanan empuk gosip murahan yang selalu menyebar dari mulut ke mulut orang usil, sebagai akibatnya pasti kaum wanita banyak yang mengalami frustasi berkepanjangan.
Betapa Dahsyat Bila Kutub Es MencairDampak efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global bukan permainan kata untuk menakut-nakuti manusia. Selain akan terjadi hujan asam, di hampir sebagian besar belahan dunia, dampak paling buruk peristiwa memantulnya sinar matahari sebelum sampai ke bumi, yaitu mencairnya dataran es di dua kutub. Akibatnya jangan tanya. Gelombang pasang air laut akan segera menyapu separuh daratan se jagad raya.
Parlemen dan Krisis KonstitusiParlemen tengah menuai masalah. Perubahan konstitusi yang sedang mereka lakukan dipersoalkan oleh beberapa anggotanya sendiri. Lucunya, mereka tidak menggunakan mekanisme prosedural dalam parlemen saat mempersoalkan hal tersebut. Tampaknya kelompok ini hendak “menghinakan” dan “menyabotase” seluruh hasil kerja MPR. Terbukti dari tudingan beberapa anggota parlemen yang juga terlibat dalam proses amandemen bahwa perubahan konstitusi kebablasan. Untuk itu, mereka mengusulkan agar kembali ke UUD 45.
 
 
Tidak Harus Membayar Utang Luar NegeriAndai saja pemerintahan Orde Baru tidak meninggalkan setumpuk utang yang hingga kini tak kunjung selesai, duh nikmatnya tinggal di sebuah negeri ini. Bayangkan saja, uang pinjaman pada negara-negara asing sebesar Rp.1.500 triliun, ternyata hingga kini belum juga lunas. Bisa dibayangkan, di jaman kepemimpinan almarhum Soeharto dulu, ternyata ech ternyata selama 32 tahun hidup dengan pinjaman dari luar negeri.
Pantesan saja, para birokrat yang bercokol di Gedung Bapennas, Depkeu dan tentu para anggota Dewan yang tidak terhormat di kala itu, getol membangun pelbagai fasilitas umum. Tapi jangan tanya mutu bangunannya seperti apa. Kita semua tahu banget deh kwalitas prasarana dan sarana fisik yang dibangun para oknum penggede kantor dan berkomplot dengan anggota dewan agar meloloskan usulan anggaran. Tapi yach itu tadi, jalannya kagak bersih untuk melicinkan DIP (Daftar Isian Proyek) disetujui pemerintah. Pelbagai cara dilakukan para Pimpro dan bendaharawan proyek bermain mata kong-kalikong dengan anggota dewan dan pejabat di Bappenas maupun di Depkeu. Jadi jangan heran kalau kebiasaan korup itu hingga kini tetap saja sulit diberantas.
Tidaklah susah menebak, para pejabat selevel Deputi, Kepala Biro dan Pemipin Proyek maupun anggota dewan waktu itu, perutnya pada buncit-buncit. Buncit bukan karena tidak dapat makan atawa terkena penyakit HO (Houngeroedem) alias beri-beri, tapi buncit akibat kenyang membadok --maaf agak kasar-- uang hasil pinjaman dari luar negeri. Cilakanya, hingga kini rakyat yang harus menanggung beban pengembalian pokok dan bunga cicilan utang itu. Ini kan nyebelin banget.
Alih-alih pemerintah sekarang mau menutup utang, ech justru nambahin pinjam uang ke sana-sani. Lhah kalau begitu, apa bedanya dong pemerintahan Orde Baru dengan sekarang kalau memang senengnya ngutang melulu. Ntar rakyat lagi yang nanggung. Gimana Pak Be Ye, bisa enggak rakyat ndak harus menanggung utang terus? (Si Oen/cah ndeso klutuk)
Mana Janjimu Dulu?Meski Pemilu legeslatif telah usai, gaung yang ditinggalkan tak kunjung berhenti. Banyak masalah, banyak pula yang dibikin susah. Namun tidak sedikit pula yang sumringah, merasakan hasil jerih payahnya, sebagai calon legeslatif dulu --tentu dengan segala cara-- ternyata berhasil juga merebut kursi empuk sebagai anggota dewan yang terhormat.
Jeruk Bali Si Penyapu KolesterolBagi Anda yang sering berbelanja ke pasar tradisional, sekali-kali meliriklah pada jeruk Bali. Paling kurang, mengingatkan pada kita sewaktu kecil di desa yang sering bermain mobil-mobilan berbahan baku kulit jeruk Bali, juga kandungan buah ini dapat mengurangi resiko sakit jantung. Sebab jeruk Bali mengandung senyawa kimiawi pektin, zat yang diyakini mampu menurunkan kadar kolesterol yang seringkali menyumbat saluran pembuluh darah jantung.