Meski Pemilu legeslatif telah usai, gaung yang ditinggalkan tak kunjung berhenti. Banyak masalah, banyak pula yang dibikin susah. Namun tidak sedikit pula yang sumringah, merasakan hasil jerih payahnya, sebagai calon legeslatif dulu --tentu dengan segala cara-- ternyata berhasil juga merebut kursi empuk sebagai anggota dewan yang terhormat.
Ratusan juta hingga milyaran rupiah, ternyata memuluskan jalan terjal menuju gedung parlemen. Sudah bukan rahasia lagi bila calon anggota terpilih yang akan disyahkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) nanti sarat dengan figur berkantong tebal. Entah dari mana datangnya duit yang dipergunakan untuk merengkuh kursi empuk sebagai wakil rakyat itu, bukan lagi menjadi penting untuk dipersoalkan, akan tetapi yang pasti dan penting tentu, dirinya terpilih oleh warga masyarakat.
Bagi para calon terpilih pada Pemilu Legeslatif lalu, persoalan utang menumpuk dalam kerangka memuaskan ambisi dirinya agar terpilih, bukan lagi menjadi beban yang harus dipikirkan setiap hari. Toh apabila dirinya terpilih nantinya, persoalan utang-piutang dapat terselesaikan dengan sendirinya. Taruh kata, misalkan ia lolos menuju gedung DPR di Senayan, bukan mustahil gaji puluhan juta setiap bulannya diperoleh dengan cepat. Belum lagi uang tetek-begek, kunjungan kerja ke sana-ke mari tentu diselipin uang saku, plus fasilitas di tempat yang dikunjunginya. Bukankah hal menjadi impian setiap para calon anggota legeslatif?
Nah itulah daya tarik Pemilu tahun ini. Itulah pulalah buah reformasi yang telah diperjuangkan para mahasiswa dengan kucuran keringat dan tetesan darah ketika menumbangkan rejim otoriter Orde Baru 1998 lalu. Kita semua tidak menyangka bila pada akhirnya demokrasi yang diimpi-impikan akan berbuah sebagai pesta perebutan kekuasaan berbasis kekuatan uang semata-mata. Kita tidak mengharamkan perebutan kekuasaan secara demokratis, tapi yang kita sesalkan justru perebutan kekuasaan itu nyata-nyata berpilar pada kekuatan finansial. Bukan pada ketokohan calon anggota yang berani angkat bicara memihak pada kepentingan rakyat jelata.
Bila hal ini terus dibiarkan tanpa kendali, bukan mustahil ajaran Machiaveli, yang menghalalkan segala cara, dalam menata percaturan politik dalam membangun negri ini, akan meluluh lantakkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan lama lagi. Sebab seluruh tatanan etik porak-poranda dilindas kekuatan finansial. Kita pantas patah arang, bila hal itu terus dilakukan oleh para petinggi dan mantan petinggi di negeri ini yang telah berusia tua. Kita saksikan betapa menyedihkannya para petinggi dan mantan petinggi negeri ini berpolah-tingkah layaknya blantik sapi.
Rakyat bukan hewan peliharaan yang dapat diperjual-belikan dengan uang. Kita tahu bahwa para calon legeslatif terpilih mayoritas bukan merupakan figur yang dapat memperjuangkan aspirasi rakyat, apalagi untuk memperjuangkannya. Kita tidak rela dan sampai hati, bila melihat kehidupan nasib rakyat yang seolah-olah dibuatnya sebagai barang dagangan ketika mereka berkampanye. Kita muak dengan janji-janji yang didengung-dengungkan saat berorasi dalam lapangan terbuka di setiap kampanya partai politik.
Kita lihat saja nanti, apakah mereka yang terpilih menduduki kursi sebagai anggota DPR/DPRD Provinsi/Kota atau pun anggota DPD ingat dengan janji-janjinya. Bila mereka lupa terhadap kata-kata yang pernah diucapkannya nanti, ingatkan pada teman, tetangga, handai taulan Anda untuk tidak percaya pada mereka.
redaktur/jes