Siapa orangnya yang mau dijauhkan dari jodoh? Kalau memang belum waktunya, urusan jodoh terkadang bikin stres karena selalu didera perasaan was-was tidak laku kawin. Apalagi bagi kaum wanita, yang telah berusia di atas 30 tahun-an. Acap julukan perawan tua, menambah atribut seorang wanita yang terlambat dalam perkawinannya. Hal itu membuat posisi kaum wanita semakin terpuruk. Tidak jarang kondisi semacam ini menjadi makanan empuk gosip murahan yang selalu menyebar dari mulut ke mulut orang usil, sebagai akibatnya pasti kaum wanita banyak yang mengalami frustasi berkepanjangan.
Img/Koran Rubrik Jodoh
Kata orang, persoalan hidup, mati dan jodoh berada di tangan Tuhan. Untuk mendapatkannya, setiap orang berhak dan syah-syah saja melakukan "perburuan" dalam hal yang satu ini, asalkan tidak merugikan orang lain. Banyak jalan untuk merengkuh pria atau wanita idaman dalam soal perjodohan ini. Ada pula yang menjalin ikatan praperkawinan semenjak di bangku sekolah, kuliah, dijodohkan orang tua atau bahkan diperolehnya melalui pertolongan paranormal.
Persoalan jodoh, boleh dibilang gampang-gampang-susah. Kalau ngepasin lagi mujur, baru berapa bulan kenalan langsung berlanjut ke pelaminan. Tapi bagi yang lagi apes, bertahun-tahun tunangan pun banyak dijumpai, layaknya cerita opera sinetron, calonnya disabet orang.
Bagi pria, persoalan terlambat mencari jodoh bukan merupakan hal yang perlu ditakutkan. Tapi sebaliknya persoalan terlambat mengaet jodoh menjadi momok dan bahkan dianggap mencemaskan wanita. Apalagi bila usia makin merambat di atas kepala tiga. Perasaan cemas merasa "jauh" ketemu jodohnya, banyak menghinggapi kaum hawa.
"Ternyata pendapat mereka benar, bahwa saya harus berkeluarga. Tetapi mencari seorang pendamping tidak segampang mencari pakaian di plaza-plaza," ujar seorang gadis jutawan pengusaha jamu berusia 40 tahun dalam rubrik kontak dan konsultasi sebuah surat kabar Suara Pembaharuan (1/2/97).
"Karena seorang pendamping adalah calon bapak rumah tangga dan nikah hanya satu kali, dan pernikahan tidak harus membawa kesengsaraan, oleh karenanya saya ikut program biro jodoh supaya mendapat pria yang saya dambakan," katanya berkilah ketika ditanya melalui telpun mengapa ia rela "mengiklankan diri" mencari pasangan melaui biro jodoh.
Lain halnya, sebut saja Arti, di bilangan Jati Bening, yang berhasil dilacak melalui nomor telpun yang diberikan oleh salah satu biro jodoh menuturkan, "Bagi saya mencari jodoh melalui biro jodoh sangat jitu. Terutama bagi yang sibuk dengan seabrek pekerjaan kantor hingga lupa memikirkan berumah tangga."
Lebih lanjut mantan pegawai bank yang terkena PHK itu menceritakan, pada awalnya ia memiliki perasaan engan, malu dan kikuk pada dirinya. Tetapi kemudian ia pun mulai berpikir bahwa yang dilakukannya tidak akan merugikan orang lain.
"Ada perasaan enggan, malu dan kikuk pada diri sendiri, tapi saya pikir apa salahnya memberanikan diri toh tidak merugikan orang lain. Tadinya saya beranggapan bahwa yang saya lakukan itu tidak lajim dilakukan wanita, dan dianggap tabu keluarga. Apalagi mereka yang kebetulan berdarah biru," ujar ibu dua anak, laki dan perempuan hasil perkawinannya dengan karyawan bank yang beruntung tidak di PHK.
Ketika disinggung mengenai persoalan cinta dan cara menyesuaikan satu sama lain saat awal-awal perkawinannya, Arti mengakui, mekipun ia merasa canggung, tetapi lambat laun perasaan itu hilang dengan sendirinya.
"Sebenarnya persoalan cinta dan kasih sayang itu dengan sendirinya akan berjalan dan mengalir seperti air. Awalnya memang ada perasaan kaku dan canggung, 'kan satu dengan lainnya baru kenal beberapa waktu. Perasaan itu akan hilang ditelan waktu dan kesibukan. Asalkan, keduanya harus merasa saling memerlukan, dan saling menghargai martabat masing-masing pasangannya seraya terus menerus berdialog," tutur perempuan pengemar olah raga yoga dengan suara lirih.
Arti nama pemberian mbah-nya 43 tahun saat dilahirkan di Sicken Zorg yang sekarang di-ruislag dan telah rata dengan tanah di sekitar Kalitan Solo, bercerita banyak pertemuan pertama kalinya dengan calon suaminya. Awalnya ia hanya mengenal suara, setelah nekat mengambil inisiatif mengirimkan data pribadi ke rubrik jodoh di salah satu media. Menurutnya, banyak yang iseng mengirimi surat, tapi ada juga yang serius.
"Sebenarnya saya malu menceritakan hal yang menyangkut masalah privacy ini, tapi dasar wartawan, ngomongnya cuma sebentar bicara, lama-kelamaan ngelantur. Tak apalah. 'Gini, tadinya ada sekitar tiga orang yang masuk nominasi. Setelah saya saring dan timbang, kayaknya cuma satu yang serius. Terus buat janji ketemu darat di rumah makan di jalan Menteng. Rasanya ada perasaan senang, tapi juga takut. Meskipun kami telah berulangkali surat-suratan, rasanya wajar. Jangan-jangan orangnya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, apa lagi dia penulis surat dan pegombal yang baik. Sluman-slumun slamet, kata mbah saya dulu. Itu lah awalnya dan sampai sekarang," katanya dengan logat jawa kental.
Dengan berbekal bahasa londo ia nekat hijrah ke Jakarta dan nyangkut dari kantor satu ke kantor lain. "Empat kali saya gonta-ganti kantor, dan akhirnya pun saya harus pasrah diberhentikan dari tempat kantorku setelah saya berumah tangga. Coba kalau tidak dan sak karepe dewe- sesukahati, bisa-bisa kentir [istilah Solo agak miring alias tidak waras]."
Kan enak kalau belum menikah, kemana-mana enggak ada yang ngelarang dan bebas? "Bebas sih enggak juga yach. Soalnya kan kita mempunyai batas-batas kelayakan mana yang pantas dan tidak untuk dilakukan. Soal larang-melarang dan berantem itu soal lain. Saya kira semua rumah tangga, biar pun diperolehnya lewat biro, rubrik jodoh atau kenalan sendiri, rasanya hal yang lumrah dan wajar. Anggap saja hal itu sebagai bumbu penyedap perkawinan, asal tidak setiap hari tawuran."
Meskipun begitu, Ia tetap merasa cemas bila ditanya keluarganya dan didengar oleh anaknya, ketika ditanya dimana kenal dan pacaran dengan suaminya. oleh karena itu, ia menutup rapat tidak mau menyebut jatidirinya secara gamblang. "Habis wartawan sering kali buat heboh sih," katanya menutup pembicaraan.
Kisah happy end Arti yang memperoleh pasangan hidupnya melalui biro jodoh barangkali banyak ditemui di tempat lain. Tapi kisah tragis pun tampaknya bila ditelusuri tidak pula sedikit jumlahnya. Persoalannya menelisik soal privacy tentu tidak mudah. Barangkali pengakuan penulis surat yang dimuat pada rubrik konsultasi Kompas Minggu, [8/8/95], menyiratkan: perburuan jodoh lewat "iklan diri" media massa memerlukan, selain rai juga nyali pemberani.
Seorang yang menyebut dirinya Gadis Malang, 34, mencurahkan kekesalannya ketika ia merasa dibohongi dan dibodohi jejaka yang tinggal di lain kota. Setelah ia menjalin hubungan lima tahun hasil "pencaloan" biro jodoh, angin surga yang dijanjikan jejaka yang mengaku masih lajang itu berubah menjadi neraka. Rupanya jejaka tadi telah lama berumah tangga dan memiliki anak dua.
"Saya, mendapatkan kabar dari saudaranya kalau dia sudah lama menikah dan mempunyai dua orang anak. Dia juga mendapatkan istrinya dari salah satu orang yang mengirim surat pada dia, melalui iklan di biro jodoh. Bagaikan petir di siang hari, saya mendengar berita itu," tulisnya di Kompas Minggu (8/8/1995).
Dari fenomena kejadian tersebut dapatlah ditarik benang merah persoalan yang acap menghingapi para para pemasang "iklan diri" yaitu, soal budaya menyangkut tabu-tidaknya tindakan itu, dan masalah bahaya 'laten' yang acap mengancam pada diri mereka tanpa disadari: penipuan dan pemerasan. Tulisan ini hanya sekedar menyoroti masalah tabu menyangkut masalah-masalah kultur dan adat-istiadat, khususnya etika jawa. Apalagi bila ditambah dengan anggapan sementara orang bahwa mencari jodoh melalui rubrik atau biro perjodohan dianggap suatu hal yang leceh.
Persoalan jodoh dan masalah tabu-tidaknya rubrik jodoh, yang menurut sementara orang masih terkesan leceh akibat pemberian lebel "iklan diri" menurut beberapa pakar sebenarnya terlalu berlebihan. Persoalan tabu sebaiknya perlu dipisahkan dengan perkara iklan diri yang terkesan melecehkan martabat perempuan. "Masalah tabu lebih banyak berkaitan dengan soal etik, lebih tepatnya etiket, dan kelaziman yang berkembang dalam budaya jawa, tetapi soal lebel iklan diri itu yang merisihkan telinga," ujar Sylvia
Berikut ini rangkuman wawancara bebera pakar yang dihubungi bebera waktu lalu. Mereka itu adalah Sylvia, peneliti senior; budayawati yang terkenal dengan sebutan putri mbalelo dari keraton Kasunanan GRAy. Kus Murtiah dan pengasuh salah satu rubrik psikologi harian Kompas Leila Ch. Budiman.
"Kalau saya diminta untuk menanggapi mengenai tabu-tidaknya suatu, taruhlah perkenalan melalui biro jodoh baik di media masa atau yayasan-yayasan semacamnya, sebenarnya hal itu tidak ada masalah dan bahkan sangat membantu dan positif," kata Sylvia, peneliti di sebuah Lembaga Psikologi Terapan di Jakarta.
Namun, menurut Sylvia, panggilan akrabnya di kantor, jangan lupa bahwa nilai positif bagi generasi sekarang bukan berarti sama untuk generasi opa-oma di jaman lampau. Lebih kongkritnya, nilai ketabuan, dalam hal-hal tertentu tentunya, yang berlaku di jaman dulu sangat berbeda dan bahkan tidak berlaku untuk jaman sekarang dan mereka memiliki batasan-batasan lain yang terkadang tidak masuk akal untuk generasi muda sekarang, sambung Psikolog dari Unpad lebih lanjut.
"Tampaknya sekarang muncul fenomena pergeseran nilai dalam pengkreteriaan tabu-tidaknya suatu tindakan boleh dilakukan,” katanya. Di jaman opa-oma dulu, papar Sylvia lebih lanjut, banyak perjodohan di comblangin keluarga atau famili dekat. Namun ada saja, terutama dari anak-anak yang mengencam pendidikan tinggi, melakukan perlawanan kultural terhadap orang tuanya. ”Mereka bahkan berani mengatakan kepada orang tuanya dengan sinis: emangnya gue kagak laku apa, ngapain mesti dicari-cariin. Padahal, maksud keluarganya, mungkin, mencarikan pasangan si anak sesuai dengan keinginannya," kata Master of Art dari ANU Australia itu.
"Lho kok sekarang, fenomen nyata terjungkir. Dulu dijodohin orang tua dicibirin, sekarang malah minta dicarikan biro-biro atau rubrik jodoh, bayar lagi, 'kan aneh. Dan adalagi yang memasalahkan tabu atau tidak mencari jodoh melalui koran atau biro jodoh. Sebenarnya masalah tabu lebih banyak berkaitan dengan soal etik, lebih tepatnya etiket, dan kelaziman yang berkembang dalam budaya jawa, tetapi soal lebel iklan diri itu yang merisihkan telinga," ujar Sylvia.
Ketabuan dan kelaziman mencari pasangan hidup tidak dengan "sembarangan" bagi etnis tertentu seperti di Jawa, masih dijunjung tinggi dan diangungkan. Konon kabarnya di daerah Solo dan Yogya, 'daftar riwayat hidup' kalau boleh disebut demikian, ditelisik sampai ke silsilah keluarga. Bahkan untuk keperluan itu pun harus dinilai dan ditimbang terlebih dahulu melalui kerabat secara hirarki mengenai: bobot, bibit dan bebet si calon pasangan hidup mereka masing-masing.
Ini bukan berarti bahwa etnis lain tidak ada suatu penilaian yang sedemikian ketat itu. Barangkali hanya soal gradasi takaran sebuah sikap dalam menilai tatanan kelaziman sebuah kultur yang terkait dengan budaya.
"Meskipun adat jawa mengisyaratkan tetap perlu mempertimbangkan bobot, bibit dan bebet, sebenarnya nilai kesakralan perkawinan itu terletak dari krenteging kalbu," ujar putri mbalelo keraton Surakarta, GRAy Kus Murtiyah atau akrab dipanggil Gusti Mung di Solo beberapa waktu lalu.
Keketatan permisif adat timbang-menimbang dalam budaya jawa, terutama di daerah yang dulunya kerajaan seperti di Solo dan Yogya, agaknya masih terasa kental diterapkan. Meskipun hal itu tidak secara eksplisit tertuang dalam suatu peraturan misalnya, tetapi toh tak bisa dipungkiri bahwa soal telisik-menelisik CV (curiculum vitae), sebagai klise negatif tetap memungkinkan di cuci menjadi gambar sesungguhnya.
"Artinya, lanjut Kus Murtiyah, sarjana sastra jawa lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang bersuamikan Edy Supriyono, kita memang seharusnya melihat baik dengan kejujuran dan keberhsihan niat secara horizontal maupun vertikal lebih dalam calon istri atau suami masing-masing."
Alhasil terlihat buram sebuah potret yang mestinya real terlihat nyata setelah diafdruk, paling tidak untuk ke dua daerah Solo dan Yogya, menyiratkan siluet yang hampir terkuak. Setidaknya, andai hasil penelitian Sutopo dan Hagul dalam analisis rubrik jodoh harian Kompas dapat dijadikan cermin —walau tidak berpretensi melakukan generalisasi populasi— bisa jadi hal itu menjadi semacam refektor nuansa keketatan tradisi dan awal keberanian kaum perempuan nyempal dari kebiasaan itu.
Dalam analisa tersebut ditunjukkan bahwa persentase perempuan yang "nyempal" mengirimkan "lamaran" mencari pasangan hidup berasal dari Solo dan Yogyakarta teramat kecil. Dengan menggunakan logika terbalik, tanpa menghiraukan metodologi, ini berarti perempuan yang berasal dari Solo dan Yogyakarta tidak banyak yang tertarik memanfaatkan rubrik jodoh sebagai alternatif lain mencari pasangan.
Apakah hal itu ada kaitannya dengan masalah tabu-tidaknya sebuah upaya lain untuk mencari pasangan? Penelusuran dengan penelitian tampaknya perlu dilakukan. Tetapi yang lebih penting dalam temuan itu adalah ada sebagian, meskipun sangat kecil, perempuan yang berani secara terang-terangan —kalau masalah perburuan jodoh melalui media dianggap tabu— menentang kultur Jawa.
Budaya menyempal pakem yang tadinya dianggap nyeleneh, tampaknya mulai dapat diterima setidaknya dalam kasus perempuan mencari jodoh melalui media massa. Hasil analisis dari tahun 1990-1990 dengan sampel sebanyak 896 pelanggan rubrik cinta Kompas Minggu, sebanyak 74,6 persen adalah wanita dan hanya 23,6-nya pria. Ternyata, wanita yang dalam budaya kita tidak pantas untuk terang-terangan mengincar pasangan proporsinya lebih banyak dibanding pria.
Apalagi bagi mereka yang memang memiliki tradisi budaya terbuka seperti etnis lain di luar etnis Jawa. Misalnya WNI keturunan Cina, menurut hasil analisis Sutopo dan Hagul yang dilakukan jauh sebelum terjadi kerusuhan, menunjukkan golongan ini tampak lebih terbuka.
"Persentase golongan WNI keturunan melayangkan "aplikasi" mencari jodoh melalui mak comblang Kompas ini cukup besar, karena dalam budaya mereka relatif lebih terbuka dibanding dengan budaya etnis lain. Lihat saja, iklan kematian, perkawinan dan iklan sejenis lain di media massa, kebanyakan merekalah yang dominan," ujar Hagul dalam pembahasan hasil penelitian kami waktu itu.
Analisis lebih lanjut waktu itu menemukan ciri-ciri menarik lain yaitu persebaran pencari jodoh datang dari berbagai kota di Indonesia. Dan paling banyak persentasenya adalah mereka yang bermukim di Jakarta sebesar 45,5 persen. Khusus berasal dari Jakarta Pusat jumlahnya mencapai 40,6 persen. Analisis lebih jauh dapat dilihat bahwa kemungkinan di daerah Jakarta Pusat merupakan pemukiman penduduk WNI keturunan Cina (Sutopo dan Hagul, 1993).
Ketika ditanya hasil analisis temuan penelitian Sutopo dan Hagul mengenai budaya terbuka antar etnis, khususnya WNI keturunan Cina, Gusti Mung tidak secara ekplisit etnis keturunan Cina lebih terbuka dibanding dengan suku lain. Ia lebih senang menggambarkan suku dari bangsa yang lebih moderat pemikirannya lebih terbuka bila dibanding dengan bangsa lain yang kurang moderat. Hak itu bisa positif dan negatif.
"Sebenarnya hal itu sangat positif dan salah satu alternatif lain untuk para pencari jodoh, yang barangkali bagi orang lain ngepasi susah mendapatkannya. Bahkan di Jepang, saya lihat di TV, mereka bahkan membuat acara perjodohan melalui kriteria-kriteria tertentu, seperti di mas media Indonesia, kemudian ditanya ini-itu, kalau cocok ya berlanjut ke pernikahan," ujar Kus Murtiyah, putri mbalelo keraton Kasunanan yang sekarang aktif di panggung politik.
Dalam tradisi budaya Jawa, menurutnya, mencari pasangan melalui biro jodoh atau rubrik di media massa sebenarnya tidak menjadi masalah lagi dan bahkan dapat membantu bagi sebagian orang yang karena sibuk lupa perkawinan.
"Mungkin pada jaman dahulu hal itu dianggap tabu dan tidak lazim. Karena persoalan jodoh itu kan urusan orang tua. Juga soal pertunangan. Bahkan ada yang sejak lahir atau bahkan dalam kandungan, kedua orang tua seringkali terlibat dalam hal itu. Bahkan dalam keluarga saya pun mengalami hal seperti itu. Tetapi, kalau sekarang ada kelonggaran dalam tradisi dalam budaya Jawa, sehingga mencari jodoh melalui biro-biro jodoh atau memasang iklan, saya kira tidak ada masalah lagi.
Malah hal itu dapat membantu bagi wanita-wanita yang karena kesibukannya meniti karier, melupakan persoalan jodoh," ujarnya seraya menambahkan, "Bagi kami, mencari jodoh melalui biro-biro jodoh tidak tabu untuk dilakukan, sepanjang bahwa hal tersebut memang jalan yang harus "dilakoninya", lha wis piye maneh. Dengan catatan harus hati-hati."
Ia berpendapat bahwa maraknya biro perjodohan di media ataupun tempat lain merupakan kemajuan jaman yang tidak dapat dicegah sehingga keadaan serupa pada masa lalu sudah tidak sesuai lagi.
"Memang, pada jaman dulu hal itu tidak lazim dilakukan, apalagi bagi seorang perempuan, tetapi sekarang sesuai dengan kemajuan, kebudayaan memberikan suatu kelonggaran sesuai dengan kemajuan jamannya. Sebenarnya kalau disimak lebih jauh, biro-biro jodoh sebenarnya merupakan modifikasi bentuk tradisi perjodohan yang lajim dilakukan jaman dahulu," tandas Kus Murtiyah.
Jaman dahulu, tutur Kus Murtiyah menambahkan, perkenalan dan perjodohan dilakukan melalui kerabat dekat, bahkan tampaknya masih berlaku perkenalan dan perjodohannya dilakukan melalui kerabat dekat, sekarang dapat melalui biro-biro jodoh atau melalui cara memperkenalkan diri secara terbuka dalam media masa.
Menanggapi banyaknya keluhan kaum perempuan merasa tidak cocok memilih pasangan dan penyebabnya, Kus Murtiyah memberikan resep gaya Keraton, "Kalau kita mau mawas diri, sebenarnya ketidak cocokan dalam hal memilih jodoh, sebenarnya datang dari tutuntan ego kita yang tinggi, sehingga kita sering kali merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain, wong saya berbuat ini-itu dapat saya lakukan sendiri kok, bahkan membuat diri kita merasa pesimis dengan kehadiran laki-laki pasangan yang kita inginkan. Tinggalkan jauh hal-hal yang membuat tuntutan ego kita yang tinggi itu."
Lantas kalau demikian, bagaimana dengan tuntutan pilihan antara karier dan berumahtangga? "Kalau saya pribadi lebih lebih memilih untuk menentukan berumah tangga dahulu, dengan menyetop karier untuk sementara, terkecuali memang memilih untuk tidak menikah. Konsetrasi pada pemilihan jodoh untuk membina rumah tangga di masa depan, saya kira lebih utama," ujarnya.
Lain halnya pendapat Leila Ch. Budiman, psikolog pengasuh rubrik sebuah harian ibukota, ketika ditanya tentang istilah mengiklankan diri bila perempuan berinisiatif mencari pasangan melalui biro jodoh.
"Saya tidak sependapat dengan istilah iklan diri, meskipun hal itu dalam tanda kutip sekalipun," tandas istri Dr. Arief Budiman di kediamannya yang asri di Salatiga beberapa waktu lalu. "Kok konotasinya negatif ya, seperti barang dagangan yang harus laku di jual saja. Padahal ini kan baru dalam tarap pengenalan diri. Kalau iklan, sebagaimana si pemasangnya hanya menampilkan yang bagus-bagus, dan yang jelek-jelek disembunyikannya."
Ia kurang sependapat bila dikatakan orang yang mencari teman hidup melalui rubrik jodoh di media tidak laku dan kemudian mengiklankan dirinya melalui koran.
"Lantas apakah dengan demikian orang yang sekedar awalnya mencari teman dikira tidak laku, kan ya enggak demikian. Tujuan media kan baik membukakan peluang untuk berkorespondensi, syukur-syukur mereka jodoh menjadi pasangan suami-isteri. Jangan terus divonis tidak laku, kan namanya keterlaluan," ujar istri mantan demonstran dan vokalis yang sekarang menetap di Australia itu.
Leila menilai mencari pasangan melalui rubrik jodoh dianggap positif. "Mestinya, kalau mau mencari kenalan ya harus aktif, memperluas sudut pandangnya agar tidak kuper. Melalui rubrik jodoh, baik melalui media cetak, elektronik atau lewat biro-biro jodoh, tujuannya untuk mulai memberanikan diri memikirkan, dan kemudian memutuskan: apakah perlu menikah atau tidak. Saya kira hal itu sangat positif. Dan tetap harus hati-hati, siapa tahu dibohongi."
Ia bahkan mengkawatirkan kecenderungan, terutama di negara-negara maju, tidak mau memikirkan mencari pasangan hidup lama-lama akan menjadi model di Indonesia.
"Banyak pemuda-pemudi yang lalai memikirkan mencari pasangan hidup, dan menganggap sepele, karena beranggapan bahwa jodoh akan datang dengan sendirinya, yang penting karir, entah itu sekolah yang tinggi atau bekerja. Pada hal usia kan tidak dapat diajak berkompromi untuk sejenak tinggal, tahu-tahu umurnya sudah di atas kepala tiga, baru terasa perlunya mencari pasangan. Masih beruntung kemudian mau berubah pikiran dan mencari pasangan hidup melalui rubrik jodoh, misalnya. Apa salahnya dicoba," ujar Leila Ch Budiman
***
Catatan tambahan
Wawancara dengan sumber utama dilakukan antara kurun 1995-1996 melalui telpun, sedang dengan nara sumber lain seperti: GRA Kus Murtiyah, dilakukan di kantornya di Baluwerti Keraton Surakarta; Leila Budiman di rumahnya sebelum pindah ke Australia dan Sylvia di kantor Lembaga Psikologi Terapan Remaja. Ketiga nara sumber itu diwawancarai juga pada kurun waktu yang sama.
Thomas/Budhi Rahayu/Si Oen/Jes